KUNTUM PUN BERSEMI DI NUSA BUNGA
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Ende merupakan salah satu komisariat yang berada di bawah naungan KAMMI Daerah (Kamda) NTT. Pada tanggal 16 Maret 2005 di sebuah rumah sederhana, yang kemudian disebut Pesma (Pesantren Mahasiswa), dengan diprakarsai oleh akhi Habibi Ahmad (Ende) dan akhi Sudirman Lamadike (Kamda), KAMMI Komisariat Ende resmi dideklarasikan. Sebuah kerinduan mahasiswa akan hadirnya Organisasi Mahasiswa Muslim di tengah peradaban kristiani telah tertunaikan. Yah.. Ende sendiri merupakan kabupaten yang berada tepat di Jantung Pulau Flores yang notabene jumlah umat kristiani adalah mayoritasnya. Ende yang terkenal dengan pesona danau tiga warna “Kelimutu”, situs Bung Karno, dan pohon Sukun “cabang lima”yang menjadi saksi lahirnya pancasila. Kebanggaan dan kebahagiaan akan hadirnya KAMMI di Ende hadir bersamaan dengan rasa tertekan. Karena otomatis kader Ende harus memikul tanggung jawab yang berat untuk mengelola organisasi besar dengan pengetahuan yang seadanya tentang pergerakan KAMMI itu sendiri. Mungkin ada benarnya perkataan seorang al-Akh bahwa komisariat ini adalah “komisariat karbitan” atau setengah dipaksakan hasil dari bentukan Kamda NTT. Dengan imam pertamanya Akhuna Mohammad Lubis dan akhuna Mahmud Mohammad sebagai sekretaris umumnya, KAMMI Ende mulai menjalankan kerja organisasi dengan melakukan peningkatan kader baik secara kualitas maupun kuantitas juga mengenalkan KAMMI Ende ke ranah publik. Dalam meningkatkan kuantitas, KAMMI Komisariat Ende mulai melakukan perekrutan perdana, Daurah Marhalah 1 pada 10 Desember 2005 dengan peserta yang berjumlah 22 orang dengan 21 orang dari Universitas Muhammadiyah Kupang Cabang Ende dan 1 orang peserta dari Universitas Flores. Sedangkan dalam hal kualitas kader, di era kepemimpinan akhuna M. Lubis telah berhasil untuk mengirimkan kader mengikuti DM 2 dan DM 3 di Kamda Kupang dan Mataram, NTB. Alhamdulillah.., hasil MUSKOM ke – I KAMMI Ende pada 1 Maret 2007 kembali mempercayakan akhuna M. Lubis dan Mahmud Mohamad sebagai imam. Banyak kemajuan yang telah berhasil dilakukan di antaranya, melakukan Daurah Marhalah 1 sebanyak 3 kali, pada 10 Desember 2005, 25 Desember 2006 sebanyak 27 orang dan 14 – 16 Desember 2007 sebanyak 28 orang. Selain itu, KAMMI Ende juga mendirikan TPA KAMMI dengan jumlah santri 102 orang yang bertempat di Pesma, penerbitan perdana buletin Ar-Ruhul Jadid (15 Oktober 2006), pembentukan “Iqra’ Club” sebagai wadah pengembangan diri para pelajar Muslim kota Ende pada 9 September 2007 dan yang sangat luar biasa adalah pembentukan UKM Islam (UKMI) Universitas Flores pada 4 November 2007. Masa-masa awal merupakan masa yang sulit bagi komisariat Ende, karena harus menghadapi banyak tantangan terutama dari lingkungan sekitar yang belum begitu mengenal Islam dengan benar. Di saat KAMMI mulai masuk Universitas Flores, jilbab para akhwat ikut berkibar di tangga-tangga kampus, namun tidak sedikit ocehan bernada miring yang mampir ke kuping para akhwat. Yang lebih ekstrim adalah sebutan “teroris” bagi para jilbaber kampus. Namun ocehan tersebut tidak menyurutkan semangat para akhwat untuk senantiasa berhijab dengan cara yang semestinya. Perjuangan akhwat edisi perdana KAMMI belumlah usai. Di akhir-akhir perkuliahan, beberapa akhwat harus terbentur pada administrasi wisuda yang mengharuskan foto pas tanpa jilbab. Lagi-lagi akhwat KAMMI dengan diback-up UKMI Uniflor harus menghadap Ketua Yayasan untuk meng-gol-kan pemakaian jilbab pada foto ijazah. Namun para akhwat KAMMI Ende di Uniflor sepertinya tidak akan pernah berhenti berjuang. Pemakaian jilbab pada foto ijazah harus terus diperjuangkan hingga kini, karena nyaris di setiap musim wisuda foto berjilbab selalu menjadi polemik. Pada tanggal 1 Maret 2008, KAMMI Ende kembali melakukan MUSKOM ke- II yang berhasil memutuskan akhuna Hamsi Said dan Fajarudin Sidiq sebagai ketua dan sekertarisnya. Dengan rentang masa dari 1 Maret 2008 – 2 Mei 2010, akhuna Hamsi dan segenap prajurit dakwahnya terus melakukan berbagai kegiatan go public. Seperti pernyataan seorang ikhwan di Depertemen Kebijakan Publik KAMMI Ende, bahwa organisasi tanpa aksi jalanan adalah organisasi yang mati, maka berbagai aksi jalanan banyak dilakukan di masa akh Hamsi. Seperti Aksi protes atas penyelesaian tenggelamnya KM. Nusa Damai di pelabuhan Ippi (Ende), aksi memperjuangkan pembentukan Pemkot Ende, aksi hari anti korupsi, aksi protes pelecehan terhadap perempuan oleh oknum polisi, dan juga Tabligh Akbar Penggalangan dana untuk korban perang di Palestina pada Agustus 2008 yang berhasil mengumpulkan dana kurang lebih sebesar 42.000.000 atas kerjasama dengan BSMI. Selain itu, peningkatan kuantitas dan kualitas ruhiyah, fiqriyah, dan jasadiyah terus dilakukan, seperti pengiriman peserta DM 2 ke KAMDA NTT pada Februari 2009, 2 kali Daurah Marhalah 1 (24-26 April 2009 dengan jumlah 34 orang dan 15-17 Januari 2010 sebanyak 15 orang), pelaksanaan training kewirausahaan pada 14 Februari 2010, serta mendelegasikan kader untuk mengikuti TPD di Mataram pada 14 – 16 Maret 2010. Pada masa akhir kepemimpinan akh Hamsi, kontribusi dan perhatian Kamda NTT mulai mengendur. Selain dikarenakan kondisi geografis Kamda yang berada di seberang Pulau (Pulau Timor), hal ini juga ditenggarai oleh adanya kegoncangan di struktur pengurus Kamda. Sehingga, bagi KAMMI Ende keberadaan Kamda NTT hanyalah sekedar bayangan saja. Ibarat anak yang kehilangan ibu, sang anak “KAMMI Ende” harus terus berjuang bertahan hidup walau tertatih. Hanya keyakinan “Allahu ma ana” yang selalu menjadi amunisi untuk anak ini. Alhasil, komisariat Ende mulai mengalihkan hubungan langsung ke tingkat KAMMI Wilayah di Mataram. Sehingga permasalahan di Kamda NTT tidak begitu berpengaruh pada komisariat Ende. Selain itu, masalah lain pun tumbuh seolah tak mengizinkan KAMMI Ende untuk menghela napas. Kader yang merupakan kekuatan organisasi mulai berkurang kuantitasnya karena ditutupnya Universitas Muhammadiyah Kupang Cabang Ende yang merupakan pendonor kader terbesar KAMMI Ende. Gelombang perpindahan kader dari Ende ke ibukota Propinisi meningkat, hingga menyisakan 30 kader di KAMMI Ende. Yang patut disesali dari perpindahan kader ke Kupang adalah nyaris tidak ada seorang kader pun yang aktif di Kamda atau komisariat di sana. Namun ujian itu belumlah usai. Kehadiran OKP berbasis Islam lainnya di kota Ende seperti HMI, PMII dan GEMUIS Ende jauh lebih menarik perhatian para kader KAMMI. Sehingga beberapa kader KAMMI Ende yang tersisa mulai melabuhkan hati ke sana, bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa di OKP lain lebih mudah untuk mencapai jenjang pimpinan. Hal ini cukup untuk memberikan keyakinan bagi kami, bahwa inilah jalan terbaik yang ALLAH berikan untuk membersihkan KAMMI Ende. Karena dengan jalan ini, kami mengetahui mana kader yang benar-benar berazzam untuk dakwah bersama KAMMI dan mana yang hanya sekedar mencari popularitas pimpinan. Pada MUSKOM ke-III yang dilaksanakan di aula Islamic centre Ende pada tanggal 2 Mei 2010 berhasil menetapkan akhuna Saiful Aziz sebagai Ketua, sedangkan posisi sekertaris masih dipercayakan kepada akh Fajarudin Sidiq. Setelah sebelum-sebelumnya terbiasa melakukan aksi dengan membentuk kesekertariatan bersama OKP kota Ende lainnya, maka pada tanggal 28 Desember 2010 bertepatan dengan kedatangan Bapak Wakil Presiden, Budiono ke Ende, KAMMI Ende mulai berani untuk turun ke jalan secara munfarid. Dengan melakukan aksi “Topeng Korupsi”, KAMMI Ende menuntut penuntasan kasus Century dan penggelapan dana pajak oleh Gayus Tambunan. Melalui aksi ‘Topeng Korupsi” ini, KAMMI Ende berhasil mematahkan pendapat berbagai kalangan tentang kondisi kader Ende. Dimana jumlah kader KAMMI yang turun aksi sebanding dengan jumlah kader OKP lain yang tergabung dalam Sekber (HMI, GMNI, dan LMND). Melihat kenyataan ini, kader KAMMI yang semula merasa pesimis dengan jumlah yang ada kembali percaya diri dan tersulut semangatnya. Untuk meningkatkan kuantitas kader, maka pada tanggal 15-17 Oktober 2010 KAMMI Ende kembali melakukan Daurah Marhalah 1 dengan jumlah peserta 12 orang, dan pada tanggal 25-27 Maret 2011 dengan peserta 11 orang. Dengan jumlah yang ada, KAMMI kembali merapatkan barisan untuk meningkatkan kualitas dengan melakukan Training Jurnalistik. Setelah sebelumnya pada 27 Januari 2011 melakukan audiens dengan Pimpinan Redaksi Flores Pos, maka pada tanggal 3 Februari 2011 KAMMI Ende pun melakukan Training Jurnalistik dengan menghadirkan Pimred Flores Pos, Bapak Mansyur A.Hamid, S.E.,M.M (Dosen Uniflor) dan 2 pembicara dari Kehumasan KAMMI Ende. Dengan berakhirnya masa jabatan akhuna Saiful Aziz pada MUSKOM ke-IV tanggal 19 Februari 2012, maka tampuk kepemimpinan KAMMI Ende selanjutnya diamanahkan kepada akhuna Ishak Ismail dan sekertarisnya Syahrul Ramadhan. Banyak kendala yang harus dihadapi KAMMI saat itu, terutama minimnya jumlah kader yang nyaris saja membuat mas’ul KAMMI, akh Ishak kehilangan semangat berorganisasinya. Namun karena adanya dukungan yang kuat, terutama dari para Murabbi membuat kondisi KAMMI tetap on fire. Dalam rangka memperingati Milad KAMMI ke- XIV pada 29 Maret 2012, KAMMI Ende kembali go public dengan melakukan tabligh akbar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Muslim Ende dan di bulan Juli 2012, KAMMI Ende juga melakukan aksi galang dana bagi korban Abrasi di Numba, Kecamatan Nangapanda. Meskipun agak terlambat, tapi pada tanggal 7-9 Februari 2012 KAMMI Ende melakukan Daurah Marhalah 1 dengan peserta terminim sepanjang sejarah KAMMI Ende, 5 orang peserta. Miris memang, tapi inilah yang harus dihadapi. Banyak faktor yang menjadi penyebab merosotnya kader. Selain dari internal KAMMI, motivasi mahasiswa Ende untuk berorganisasi juga sangat rendah. Fenomena 3K (Kampus-Kost-Kompor) adalah budaya yang seolah diwariskan secara turun-temurun. Bergabung dalam organisasi intra kampus saja enggan, apalagi ekstra kampus seperti KAMMI yang dianggap sangat eksklusif dengan jilbab dan busana lebar para akhwatnya. Ditambah lagi kesadaran untuk meningkatkan ilmu agama Islam yang rendah, membuat arus kristenisasi mudah menjebak. Selain itu, KAMMI Ende juga terus melakukan peningkatan kualitas fiqriyah, ruhiyah maupun jasadiyah di setiap masanya. Liqo’at setiap pekan, Madrasah KAMMI, Rihlah, bakti sosial dan berbagai kegiatan yang rutin dilakukan sesuai momentum yang ada baik bersifat insidental maupun terencana tetap dilakukan. Kondisi internal KAMMI dengan tuntutan manhaj kaderisasi dalam jenjang pengkaderan yang dirasa tidak sesuai dengan kultur sosial masyarakat Ende, membuat KAMMI Ende kesulitan untuk mengimplementasikan manhaj. Misalkan pada syarat untuk menjadi ketua Komisariat harus kader AB 2, namun pada Muskom ke-IV kriteria itu tidak diajukan, Karena memang para calon ketua tidak seorang pun yang AB 2. Meskipun rata-rata kader KAMMI Ende masih berstatus AB 1, tapi kesadaran untuk membangun dan membina umat jauh lebih tinggi dengan status yang disandangnya. Beberapa kader dakwah kampus yang telah menyelesaikan kuliahnya, harus terjun ke medan dakwah kampung. Kembali ke tanah kelahirannya, membangun peradaban Islam dengan menyentuh kalangan anak-anak. Akh Ishak Ismail mendirikan TPA di daerah Ndona yang kental dengan budaya kristennya, akh Hifni Djafar mendirikan Taman Baca dan mengabdikan hidupnya sebagai guru multi pelajaran pada SMA Negeri di Pulau Ende yang 100% muslim, ukh Amalia Rezekyani mendirikan TPA di Wolowaru yang masih kental dengan budaya lokalnya, dan masih banyak kader KAMMI yang mengabdikan hidupnya, memberikan celupan illahiyah untuk membina umat Muslim Ende, dan Flores umumnya. Alhamdulillah… di Milad yang ke XV ini, KAMMI Ende kembali melakukan kegiatan go public berupa jalan sehat dan donor darah agar bisa senantiasa berarti untuk masyarakat. Dalam do’a lirih yang kuselipkan di sudut malam bahwa kuntum itu akan bersemi di kota Ende, tanah kelahiran Pancasila. Keyakinan bahwa Mawar Indonesia akan mekar di Nusa Bunga, Flores. Keyakinan bahwa panji Islam akan berkibar di pulau yang diklaim sebagai tanah kristus Indonesia. ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…!!! Ditulis oleh: Siti Salma (Kordep Kaderisasi)

4 komentar:
SubhanaAllah... Luar biasa... Tetap semangaat untuk ikhwah Kammi di ende.. Salam Dari kami di Newcastle...
Pembentukan kodya ende ko hax sekedar wacana,,,kita kalah dari daerah tetangga yg selangkah lg udh lebih maju dri kita dgn pembentukan kota madya maumere...
ende fokalnya doang,aplikasinya 0,0,,Hax dgn demo oleh org2 yg tdk ingin kota ende maju,pemda kita udh gemataran...
kebobrokakan kita dimafaatkan oleh daerah tetangga....ende akan semakin jauh tertinggal dari maumere....lihat aja kedepannya............
Makasih ukh,,,kita membutuhkn masukn n bantuan antum di daerah yg lebih maju.....
Mungkin kita perlu persatuan, n puxa keberanian memerangi politik lingkar setan....mengawasi kinerja pemimpin n aparatur pemkab,,,,objektifitas harus berjiwa besar menerimaxa....belum terlambat saudra....mari gabung deng kita2
Posting Komentar